Selasa, 10 April 2012

Cara Mengatasi Kemiskinan

“Kemiskinan terjadi karena tidak terdistribusinya kekayaan secara baik” begitu mahfum nasehat Ali r.a.
Saya sering membayangkan kalau sekiranya orang-orang kaya berpenghasilan besar itu mau menghidupi satu dua keluarga miskin di pelosok kampung di tanah air, baik di Jawa maupun di luar pulau lainnya, maka kemiskinan lama-lama akan terkikis .
Laporan sebuah media beberapa minggu lalu menyebutkan jumlah orang kaya di Indonesia bertambah. Tapi di sisi lain orang miskin juga makin berkembang biak. Standar Kemiskinan menurut Perserikatan Bangsa Bangsa adalah pekerja yang berpenghasilan kurang dari Rp20rb perhari.
Miris kita lihat teman teman dari keluarga miskin di Indonesia terutama di Timur Indonesia, bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhan hidupnya yang berat?
Kalau sekiranya sebagian kita yang kaya-kaya, dari kalangan dirut, menteri, pemilik saham, artis, dan pemilik perusahaan profit  mau menghidupi satu dua keluarga miskin dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup, maka pastilah akan terlihat hasilnya.
Menghidupi satu keluarga miskin bisa berupa satu kilo beras perhari, lauk pauk, bahan bakar, pakaian, dan sampai pada perlengkapan sekolah. Mereka miskin bukan karena malas, tapi memang tidak terserapnya mereka di lowongan pekerjaan yang makin ketat.
Teringat program jadul, Orang Tua Asuh. Program yang menitikberatkan pada bantuan biaya sekolah bagi anak-anak tak mampu. Apakah program ini masih ada?  Bagaimana kalau program ini juga merayu orang-orang mampu untuk menghidupi keluarga miskin?
Jika program ini jalan maka kriminalitas pasti berkurang. Harmoni antar sesama juga akan tercipta.
Tapi sayang sekali itu cuma angan-angan. Seandainya mereka mau…

Jakarta -Persoalan kemiskinan di negeri ini seperti tidak berujung. Meskipun pemerintah menyebutkan angka kemiskinan cenderung menurun setiap tahun, namun realitas kemiskinan di masyarakat tetap sangat marak. Sementara grafik kemiskinan masih menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Ini membuat pekerjaan rumah pemerintah masih sangat besar dalam urusan menanggulangi kemiskinan.

Mengentaskan kemiskinan bukanlah persoalan ringan jika harus dilakukan secara sepihak tanpa kerjasama. Harus ada keterlibatan partisipatif dari unsur masyarakat sipil (civil society) untuk membantu upaya pemerintah menekan angka kemiskinan.

Hal ini dipaparkan dalam Poverty Outlokk Seminar bertema “‘Wajah Kemiskinan Indonesia 2012: Potret Keberhasilan dan Kegagalan Negara Dalam Mengentaskan Kemiskinan” yang digelar Dompet Dhuafa di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (27/12/2011).

Guru Besar Ilmu Ekonomi dari Universitas Brawijaya, Ahmad Erani Yustika mengatakan, kemiskinan yang terjadi di Indonesia lebih diciptakan karena ‘kesalahan’dalam kebijakan negara. Menurutnya, gemerlapnya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi makro Indonesia tidak terjadi korelasi langsung dengan pembentukan kemakmuran.

“Kemiskinan ini buatan manuisa. Kesalahan desain pembangunan yang menciptakan kemiskinan. Sekarang ini tidak ada korelasinya yang meyakinkan antara gemerlap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi makro dengan kemakmuran. Yang terjadi justru kemiskinan semakin bertambah.  Memang ini juga terjadi di luar negeri secara global. Bukan khas Indonesia saja,” ujar Erani yang menjadi salah seorang pembicara.

Dia mengatakan, kalau menggunakan patokan BPS (Badan Pusat Statistik), angka cenderung menurun. Tapi secara substantif, jumlah orang miskin meningkat. Karena kemiskinan tidak saja berkaitan dengan angka statistik, tapi kualitas hidup.

“Kalau dijumlahkan, jumlah orang miskin dan hampir miskin sekitar 57 juta jiwa, bahkan trennya meningkat. Apalagi IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Indonesia sangat rendah. IPM ini menggambarkan kuaalitas hidup, dan sudah semestinya berkorelasi dengan realitas kemiskinan sebenarnya,” cetusnya

Guru Besar Ilmu Ekonomi UGM Gunawan Sumodiningrat menambahkan, tahun 2012 kondisi kemiskinan di Indoesia diperkirakan ‘semakin baik’ dan diangka ‘stabil’. “Karena pemerintah saat ini tidak berdaya, tidak bisa apa-apa. Jadi jangan menggangu pemerintah. Karena kondisi inilah, maka sebetulnya semangat gotong royong menajdi semakin bagus dan diperlukan. Hanya dengan kemandirian dan kesadaran masyarakat, tanpa pemerintah, untuk menanggulangi kemiskinan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS), J Kristiadi mengatakan, negara sebetulnya mempunyai peran utama dalam penanggulangan kemiskinan. Namun sayangnya, menurut dia, elit politik saat ini tidak mempunyai niat baik untuk menanggulangi  kemiskinan di Indonesia.

“Karena elit politik ini seperti sudah mati rasa, miskin rasa tidak ada visi tentang kemiskinan. Jadi kalau ingin negara ini menanggulangi kemiskinan secara serius, harus dibaiki dulu negara ini. Dibaiki dulu sistem dan regulasinya. Harus juga ada semacam gerakan desakan dari masyarakat agar soal kemiskinan menjadi bagian dari perhatian serius pemerintah. Apakah itu revolusi sosial, atau apapun namanya,” tegas Kristiadi.

Data terakhir BPS menyebutkan 31,2 juta jiwa saat ini tercatat sebagai warga miskin. Jumlah ini setara dengan 13,33% dari total penduduk Indonesia. Jika menggunakan data Bank Dunia (World Bank), jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 100 juta jiwa. Sementara itu, 40 individu terkaya di negeri ini menguasai lebih dari Rp 700 triliun harta.

sumber: www.google.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar